Kamis, 08 Oktober 2009

INTRODUCTION TO SOCIOLOGY

“ABOUT GAY”


Bab I

Pendahuluan

1.1. Pengertian

Kecenderungan manusia menyukai sesama jenis dan malah tidak suka dengan lawan jenis sekarang ini seringkali kita temui di masyarakat. Orang yang memiliki kecenderungan ini biasa disebut homoseksual. Homoseksual bisa juga diartikan dalam konteks orientasi seksual, yaitu ketika seseorang memiliki orientasi seksual pada orang lain yang jenis kelaminnya sama. Pria homoseksual biasa disebut Gay, sedangkan wanita homoseksual biasa disebut Lesbian.

Kata “gay” yang merujuk pada penyuka sesama jenis, sesungguhnya dianggap yang paling tidak menyinggung perasaan. Namun, masih ada Gay yang dapat merasa tersinggung apabila ada yang menyebut dirinya “gay”. Maka, penggunaan kata ini pun masih harus diperhatikan dan tidak sembarangan digunakan.

Kecenderungan sesama jenis sampai sekarang masih belum dapat diterima oleh masyarakat, meskipun jumlah gay sudah semakin banyak dan semakin banyak pula yang secara terbuka menyatakan bahwa dirinya gay.

Ada orang yang berpendapat bahwa kecenderungan menyukai sesama jenis adalah suatu penyakit atau gangguan mental, ada yang berpendapat bahwa ini adalah dosa, dan ada pula yang berpendapat bahwa gay hanyalah pilihan seseorang. Pada dasarnya, gay bukanlah suatu pilihan, ataupun suatu penyakit, karena gay atau tidaknya seseorang bergantung pada bisa atau tidaknya ia menyukai lawan jenisnya. Hal ini tidak bisa dikendalikan, bahkan oleh logika atau pikiran sekalipun. Seperti halnya jika pria menyukai seorang wanita, bukan karena pria itu ingin menyukai wanita tersebut, melainkan karena pria itu memang telah menyukai wanita itu, secara sadar maupun tidak.

Gay merupakan suatu fenomena di mana seorang pria mulai menyadari ada sesuatu yang menarik dari seorang pria lain, dan tidak mempedulikan jenis kelaminnya. Fenomena ini tidak akan bisa disembuhkan atau dihilangkan dengan bantuan obat ataupun terapi. Sifat gay seseorang hanya bisa dihilangkan bila seorang gay sadar dan mulai menyukai lawan jenis.

1.2. Penyebab gay

Menurut para peneliti, kecenderungan gay dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor genetik, faktor lingkungan, faktor pengalaman hidup, dan faktor pergaulan dalam masyarakat.

Faktor genetik merupakan penyebab gay yang dianggap tidak dapat diubah atau disembuhkan, karena berasal dari orangtua dan sudah ada dalam gen sang individu sehingga tidak bisa diubah. Contohnya adalah seorang anak yang lahir dari ayah atau ibu yang memiliki gen gay atau lesbian, atau seorang ayah yang memang adalah seorang gay meskipun menikah dengan lawan jenis dan mempunyai anak, maupun seorang ibu yang memang adalah seorang lesbian meskipun juga menikah dengan lawan jenis dan mempunyai anak.

Faktor lingkungan merupakan penyebab kecenderungan gay yang berasal dari lingkungan tempatnya hidup atau tinggal, seperti misalnya seorang anak yang diadopsi oleh gay / lesbian, maupun seorang anak yang paman atau bibinya adalah gay / lesbian. Faktor lingkungan akan mempengaruhi kecenderungan seksualnya karena sejak kecil ia terbiasa melihat ataupun merasakan sendiri gaya hidup gay / lesbian.

Faktor pengalaman hidup merupakan faktor paling umum yang biasanya dikemukakan para peneliti. Faktor pengalaman hidup contohnya seperti pernah disiksa ketika kecil, pernah diperkosa dan menjadi trauma, pernah didandani seperti wanita, pernah dihina atau diledek atau dikatai “banci”, orangtua menginginkan anak wanita, pernah dilecehkan pria ketika kecil, merasa dirinya lemah, dan lain-lain. Hal-hal tersebut tanpa disadari dapat berpengaruh pada mental seseorang, apalagi bila mentalnya masih lemah dan sensitif.

Yang dimaksud dengan faktor pergaulan dalam masyarakat adalah masuknya seseorang yang normal ke dalam sebuah kelompok sosial atau perkumpulan gay. Bisa juga dikarenakan seseorang yang tadinya normal, bergaul dan berteman dekat dengan seorang gay, sehingga akhirnya terpengaruh dan berubah kecenderungan seksualnya. Atau bisa juga disebabkan oleh pria normal yang mulai merasa seorang gay menarik dan pada akhirnya menganggap gay yang ia sukai tersebut sebagai seorang wanita.

1.3. Perilaku dan Kebiasaan

Perilaku dan kebiasaan gay yang sering ditemui di masyarakat sebenarnya seperti orang normal kebanyakan. Mereka menjalani hidup seperti biasa, karena gay bukanlah suatu penyakit atau kelainan. Namun, ada beberapa hal yang membedakan pria gay dengan pria pada umumnya, yaitu bahwa pria gay lebih memperhatikan penampilan mereka, dan memiliki perasaan yang lebih sensitif. Kebanyakan pria gay mudah tersinggung dan cemburu, disebabkan oleh rasa tidak aman dalam hati mereka, karena mereka berpendapat bahwa masyarakat masih belum bisa menerima kecenderungan mereka.

Di beberapa tempat-tempat umum di Jakarta, banyak ditemukan gay yang dengan berani menunjukkan kemesraan di depan umum, seperti bergandengan tangan, berpelukan, dan bahkan berciuman. Hal ini sudah biasa ditemui di kota besar seperti di Jakarta, namun mungkin masih dianggap tabu di daerah-daerah lain.

1.4. Hubungan Sosial

Gay pada umumnya banyak yang supel dan mudah bergaul dengan wanita daripada dengan pria. Bisa jadi karena percakapan antara gay dengan wanita lebih ‘nyambung’ karena bisa sama-sama membicarakan tentang pria ganteng, baju, shopping, dan lain-lain.

Namun karena masih ada orang yang tidak bisa menerima keberadaan pecinta sesama jenis, terkadang masih banyak yang melecehkan atau merendahkan kaum gay. Hal ini menjadi factor penghalang bagi gay yang ingin bersosialisasi seperti layaknya orang normal kebanyakan.

1.5. Tempat-tempat Sosial Favorit Gay

Club : Apollo, Heaven, Moonlight

Situs : www.gayromeo.com; www.manjam.com; www.asiaformen.com; www.personal.com; www.gaytube.com

Mall : Plaza Indonesia Entertainment Xentre

Lainnya : Sarinah, Atrium, Celebrity Fitness

1.6. Cara Merubah Pria Normal menjadi Gay (menurut sebuah forum)

Berikut ini cara mengubah pria straight menjadi gay, menurut pernyataan beberapa kaum gay yang bertukar pikiran di sebuah forum:

  1. “Gw pernah ada pengalaman dengan co straight (teman satu kamar) dan ini sebenarnya mengingatkan awal gw mulai merasakan sesuatu yang laen dari diri gw. Ini murni ga pake dukun. Tapi gw kasih intinya saja, lo kasih perhatian saja ke dia tetapi tidak berlebihan ya, normal-normal saja tapi mengena, trus usahakan kamu selalu tidur di samping dia. Biasanya semua berawal dari tidur ini, posisi kepala kamu sejajar dengan dia kamu rasakan nafas dia. Karena kondisi kita tidak sadar kadang sebagian tubuh kita, tangan atau kaki kita posisinya ada dimana, coba perlahan kasih sentuhan ke tubuh dia mulai dari tangan, terus kasih pelukan tapi ini dilakukan seolah-olah kita tidak sadar atau tidak disengaja lama-lama si dia akan terbiasa dengan kondisi tersebut dan bagi dia, akan merasakan sesuatu sensasi yang lain dan merasakan kenikmatan tersendiri. Selanjutnya Anda mulai beraksi dengan tangan Anda untuk menyentuh bagian lainnya yang vital tapi perlahan, misalnya kamu pura-pura menyentuh bagian vitalnya pas kondisinya sedang menegang (kondisi pakai celana) coba elus-elus pelan saja, jangan tergesa-gesa sambil kamu nikmati, selanjutnya coba sedikit demi sedikit kamu mulai buka atau tangan kamu masuk ke dalam celananya, beri sentuhan yang halus sampai dia merasakan kenikmatan yang luar biasa terus dan terus, sampai dia terbiasa, lakukan setiap malam. Kalau sudah terbiasa, mau dibuka celananya sampai dia benar-benar bugil tidak akan menjadi masalah dan biasanya si dia pura-pura gak pernah terjadi apa-apa di antara kamu dengan dia, tetapi gak bisa dipungkiri dia sebenarnya merasakan hal yang menyenangkan dan ketagihan. “
  2. “Yang harus lo tahu bahwa cowo straight itu beda sama cowo yang kita sudah tahu orientasinya. Makanya perlakuan lo juga HARUS BEDA. Ambillah cara-cara yang halus. Apa saja. Biasanya yang sering kena kalau dia curhat sama kamu. Nah kesempatan lu, untuk jadi pendengar yang baik, dimana kamu kasih perhatian tapi tidak terlihat kalau kamu nyosor-nyosor banget. Ambil hatinya. Kalau sudah kena hatinya, terus badannya tinggal diserahkan ke kamu. Suer. Ini juga pengalaman pribadi aku. Sekedar cerita saja. Dulu aku pacaran pertama dengan anak yang straight, awalnya sih dia ada masalah keluarga (maklum masih kelas 2 SMA) dia curhat, aku sih sebagai pendengar yang baik, eeh lama kelamaan kita jadian.”

Bab II

Hasil Interview

I. Nathan

Seorang gay yang kami wawancara, sebut saja namanya Nathan, usia 19 tahun, seorang mahasiswa di Universitas terkenal di Jakarta, mengaku merupakan gay sejak lahir, dan baru menyadarinya saat kelas 5 atau 6 SD, dan pada saat SMP mengidolakan Christina Aguilera karena ia menemukan bahwa Christina Aguilera menunjukkan dukungan terhadap kaum gay dan lesbian, serta menunjukan penerimaan dan dukungannya tersebut dari lagu-lagunya. Ia mengaku mengidolakan Christina Aguilera hingga sekarang. Hal ini menunjukkan bahwa setelah Nathan sadar bahwa dirinya gay pada usia yang relatif masih muda, ia berusaha mencari dukungan mental dan penerimaan dari masyarakat, meski baru dalam tahap mengidolakan seseorang. Nathan mengaku ia menjadi gay bukan karena trauma psikologis atau karena sebab-sebab tertentu, melainkan karena sudah dari lahir ia adalah gay dan hal ini tidak dapat diubah maupun disembuhkan, karena sudah merupakan kodrat dan takdirnya. Ia hanya bisa bersyukur dan berharap kelak dapat menikah dengan pria yang ia cintai. Harapannya sama dengan orang normal pada umumnya.

Ketika ditanya apakah ia tidak merasa bahwa menjadi gay adalah dosa, ia mengatakan bahwa agama memang melarang kecenderungan menyukai sesama jenis, namun baginya, dia tidaklah berdosa karena dia sudah menjadi gay sejak lahir, ia tidak membuat / mengubah dirinya sendiri menjadi gay. Ia bahkan yakin dan percaya bahwa Tuhan-lah yang menciptakannya sebagai gay. Maka menurutnya, ia tidak berdosa, karena ini sudah suratan nasibnya, dan kalaupun mau menyalahkan, salahkan Tuhan yang menciptakannya seperti itu.

Meskipun merupakan seorang gay sejak lahir, Nathan tidak pernah berpacaran, baik dengan pria maupun dengan wanita. Ia tidak pernah berpacaran dengan wanita karena memang tidak tertarik, sedangkan dengan pria, ia cenderung menyukai tipe pria normal sehingga cintanya selalu tak berbalas. Selain itu, ia merasa agak risih bila berada di dekat pria gay yang lain, karena takut ketahuan oleh orang lain bahwa ia juga gay. Meski belum pernah berpacaran, Nathan ingin sekali menjalani masa-masa pacaran dengan kekasihnya kelak seperti layaknya pasangan biasa, yaitu ke mall, jalan-jalan, nonton, dan mengunjungi tempat-tempat khusus lainnya. Tapi ia bertekad menjaga ‘kesucian’-nya seperti layaknya wanita baik-baik menjaga keperawanan, sehingga ia mengaku akan menolak bila pasangannya nanti mengajaknya melakukan hal yang tidak-tidak. Namun bila hanya flirting maupun sentuhan tidak akan ditolaknya. Meskipun seorang gay, namun bila menonton film porno yang skenarionya adalah hubungan wanita dengan pria, Nathan tetap dapat terangsang, dengan syarat bintang pornonya memiliki tubuh sebagus Pamela Anderson ataupun yang sejenisnya.

Ditanyai apakah sahabat-sahabatnya mengetahui perihal ia gay, Nathan mengatakan telah mengaku pada beberapa sahabatnya yang dirasa bisa menerima, dan ada yang kaget tetapi menerima dengan reaksi yang baik-baik saja, ada yang kaget dan terlihat tidak percaya, ada yang biasa saja reaksinya, ada yang heran, dan bila ada yang terlihat tidak percaya dan seperti menentang kecenderungan gay, Nathan terpaksa mengatakan bahwa ia hanya bercanda.

Karena masalah gay masih merupakan hal yang sensitif dan tidak semua orang bisa menerimanya, Nathan mengaku ia sangat pemilih dalam hal pertemanan. Ia memilih teman yang tidak membedakan ia dari pria normal pada umumnya, teman yang tidak mendiskriminasi dirinya. Ia mau teman yang memperlakukannya biasa saja, terutama setelah mengetahui mengenai kecenderungan seksualnya. Nathan tidak mau bersahabat dengan orang-orang yang anti-gay, ataupun yang menganggap gay berbeda dan merupakan suatu kelainan / keanehan. Dinyatakannya bahwa kecenderungan seksualnya sebenarnya tidak menghalanginya dalam bergaul, karena ia tidak merasa rendah diri karenanya. Ia hanya susah bergaul karena memang pendiam, bukan karena kecenderungan seksualnya.

Orangtuanya pun tidak tahu bahwa ia gay, karena ia takut orangtuanya tidak dapat menerima, dan ia takut mengecewakan orangtuanya. Apabila sudah memiliki kekasih, ia berencana akan membiarkan orangtuanya tahu bahwa itu hanya teman, dan tidak keberatan memperkenalkan kekasihnya ke orangtuanya asalkan kekasihnya tersebut tidak terlihat seperti gay dan perilakunya pun tidak ketahuan gay.

Nathan merasa bahwa ia akan menjadi gay selamanya, karena sekali lagi gay bukanlah suatu penyakit atau kelainan, melainkan sudah bawaan sejak lahir. Ia semakin yakin untuk tetap menjadi gay, karena ia berpikir untuk apa berpura-pura dan berusaha keras menjadi pria normal, sementara pada dasarnya ia menyukai laki-laki. Dia tidak mau membohongi dirinya sendiri. Dia mungkin bisa menjadi biseksual, namun itupun tidak akan tahan lama, karena pada dasarnya ia tidak mampu menyukai wanita. Ia bisa saja punya istri, tapi akan tetap menyukai laki-laki dan bisa saja berselingkuh dengan laki-laki, dan kalaupun memiliki anak, anaknya bisa saja menjadi gay atau banci. Daripada menjalani hidup yang kacau seperti itu, menurutnya lebih baik ia tetap menjadi dirinya sendiri. Selain itu juga, yang meyakinkannya adalah setelah ia mengaku kepada sahabat-sahabatnya bahwa ia gay, sahabatnya ternyata banyak yang bisa menerima dan memberi dukungan padanya apapun yang terjadi. Hal itulah yang mendukungnya untuk tetap menjadi gay, karena ternyata ia tetap dapat diterima oleh orang lain.

Meski tidak pernah berpacaran, Nathan pernah disukai wanita. Sejak usia 14 tahun, Nathan pernah tahu ada seorang gadis yang suka padanya, dan karena ia belum tahu cara menjaga sikap, ia berusaha menjauhi gadis itu. Ia selalu pura-pura tidak melihat dan tidak mengetahui keberadaan gadis yang menyukainya. Setelah lebih dewasa, ketika ada gadis yang menyukainya, ia akan berusaha bersikap biasa saja, namun bila gadis yang menyukainya semakin agresif, ia akan menjauhi gadis tersebut. Ditanya pendapatnya mengenai perbedaan pacaran sesama jenis dan lain jenis, ia berkata bahwa bila berpacaran dengan wanita, dia sebagai pria yang harus melindungi, mengantar jemput pacarnya, dan berperan sebagai pihak yang diandalkan. Sedangkan jika berpacaran dengan laki-laki, Nathan lah yang akan menjadi pihak yang dilindungi dan yang butuh sandaran. Atau bisa saja saling melindungi dan saling bertukar peran.

Apakah dalam hubungan gay ada yang berperan sebagai wanita? Jawabannya adalah iya. Meskipun batas antara pria dan wanitanya tidak terlalu terlihat, namun menurut Nathan, gay yang berperan sebagai wanita biasanya adalah yang ukuran badannya lebih kecil, ataupun yang umurnya lebih muda, maupun yang perilakunya lemah lembut. Gay yang berperan sebagai pria biasanya lebih gagah dan lebih tinggi, serta tidak terlihat seperti pria gay.

Pengalaman-pengalaman Nathan yang berhubungan dengan kehidupan gay antara lain: menyukai laki-laki normal berkali-kali, diremehkan dan dianggap serta dikatai banci oleh teman sekolah, menghitung jumlah gay ketika sedang berjalan-jalan di mall dan menemukan bahwa ternyata jumlah gay semakin banyak, mempelajari film porno mengenai hubungan gay, menemukan situs pertemanan gay dan membuat account di situs tersebut, chatting dengan gay, dikirimi foto bugil oleh gay, dilirik oleh gay ketika sedang berjalan di mall, dan ada pula dibujuk oleh teman wanitanya untuk berpacaran dengan gay yang tidak ia sukai, karena temannya suka pada gay tersebut.

Nathan biasanya menilai seseorang gay atau bukan dari perawakannya, maupun dari caranya melihat laki-laki. Dapat pula dilihat dari cara berbicara, perilaku, cara berpakaian, tatapan mata, maupun dari hobi, misalnya hobi modern dance atau hobi shopping. Kadang memang susah membedakan pria normal dengan gay. Namun Nathan juga menganggap kebanyakan pria metroseksual adalah gay, tapi bukan berarti semua pria metroseksual adalah gay. Ini hanyalah untuk mempermudah membedakannya saja. Demi mencari pasangan, ia akhirnya membuat account di situs pertemanan gay yang cukup terkenal dan banyak penggunanya. Situs yang ia gunakan adalah www.manjam.com.

Akhir kata, Nathan sangat mendambakan legalnya pernikahan sesama jenis di dunia dan terutama di Indonesia, dan ia sangat ingin bisa diterima di masyarakat, terutama di mata orangtuanya nanti. Ia juga ingin masyarakat tahu bahwa tidak semua gay cemburuan dan pembunuh seperti kasus Ryan. Ia berterima kasih pada anggota masyarakat yang menerima gay, baik mendukung maupun tidak mendukung dan hanya menerima saja. Saran dari Nathan kepada masyarakat adalah bagi yang belum bisa menerima, berusahalah untuk berpikir positif tentang gay, karena setiap manusia adalah berbeda dan kita harus bisa saling menerima selama tidak merugikan. Adapun lebih baik masyarakat mulai menerima keberadaan penyuka sesama jenis, untuk berjaga-jaga bila nantinya ada anggota keluarga yang menjadi penyuka sesama jenis.

II. Steve

Seorang gay yang meminta dipanggil Steve, umur 19 tahun, saat ini adalah mahasiswa di sebuah Universitas di China, mengaku menjadi gay sejak lahir, dan sudah tau sejak awal bahwa dirinya gay. Ia mengidolakan John Barrowman karena menurutnya John Barrowman pintar dalam segala hal, serta pantas menjadi idola (role-model) untuk masa depannya nanti, yaitu karena John Barrowman punya partner dalam hidup dan karir yg baik. Hal ini menandakan bahwa seorang gay pun mendambakan karir dan hidup yang baik, bukan hidup yang kacau dan penuh hura-hura seperti yang dibayangkan oleh orang banyak.

Steve sudah punya kekasih dan saat ini hubungannya baik-baik saja dengan kekasihnya, meskipun dijalani secara long distance karena kekasihnya tinggal di Jakarta sedangkan Steve sedang menuntut ilmu di China. Mereka biasa berkencan di café-café, mall-mall, maupun di rumah kekasih Steve.

Steve merupakan gay yang sudah cukup banyak kali berpacaran. Masa pacarannya yang paling singkat adalah seminggu, sedangkan yang paling lama adalah 1 tahun 2 bulan. Penyebab dia putus biasanya adalah karena sudah tidak ada kecocokan, ataupun karena sudah tidak ada rasa lagi. Selama menjalin kasih, Steve mangakui bahwa ia terkadang melakukan sex, namun tidak harus selalu melakukannya. Ia hanya melakukan hubungan seksual dengan kekasihnya bila keduanya sama-sama menginginkannya. Menurut Steve, sex bukanlah sesuatu yang sangat penting yang sampai harus dijaga sebaik-baiknya sampai menikah. “Itu gila namanya”, katanya. Namun sex juga bukan hal utama yang ia incar dalam menjalin hubungan. Hal utama dalam menjalin suatu hubungan tetaplah cinta dan rasa sayang.

Kebanyakan teman Steve mengetahui bahwa ia gay. Pada awalnya mereka kaget, tetapi lama-lama malah tidak mempermasalahkannya dan menerimanya dengan hati yang terbuka. Tidak ada yang menjauhinya. Oleh karenanya, Steve tidak pernah memilih-milih teman. Ia memilih terbuka kepada teman-teman baiknya. Ia bercerita ke temannya pun, dipikirkan dulu apakah temannya bisa menerima atau tidak. Menurut Steve, kalau bisa menerima, kenapa tidak, karena zaman sekarang ini masyarakat sudah banyak yang menerima keberadaan gay dan bahkan cukup banyak yang mendukung. Steve pun cukup terbuka pada kedua orangtuanya, dengan membiarkan mereka tahu bahwa ia gay. Orangtuanya tentu saja tidak bisa menerima kenyataan itu, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena Steve tidak mau menyangkal bahwa ia adalah gay, dan Steve berpendapat bahwa hanya ia sendiri yang boleh mengatur hidupnya, orangtuanya tidak dapat mengatur apa yang ia mau.

Menurut Steve, gay bukanlah pilihan “mau jadi’ atau “tidak mau”. Gay berarti tidak bisa menyukai lawan jenis, bukan berarti bila dia mau jadi gay maka tinggal jadi gay saja. Hal ini tidak bisa dikendalikan oleh kemauan.

Steve pernah mencoba untuk menyukai wanita, tapi hanya mencobanya sebentar dan akhirnya menyerah karena pada dasarnya ia memang tidak ada rasa apa-apa terhadap wanita, baik rohani maupun jasmani. Karena memiliki paras lumayan, cukup banyak wanita yang menyukai Steve. Ketika ditanya bagaimana cara menyikapi bila ada wanita yang menyukainya, ia bilang ia akan bersikap biasa saja, dan bahkan sedikit menjaga sikap, karena ia menikmati rasanya menjadi perhatian orang. Ia bahkan pernah mencoba berpacaran dengan wanita, namun ia malah menjadi semakin yakin untuk menjadi gay, karena benar-benar tidak bisa menyukai wanita. Perbedaan antara berpacaran dengan wanita dan pria, menurut Steve adalah ia harus memberi perhatian lebih pada wanita, dan sangat sulit melakukannya karena ia tidak benar-benar menyukai wanita itu. Steve justru adalah seorang yang lebih butuh perhatian. Ia bahkan kadang merasa jijik jika menyentuh wanita. Ia bahkan berkata bahwa ia tidak akan merasa terangsang bila menonton video porno yang dibintangi wanita. Sedangkan saat berpacaran dengan laki-laki, kendalanya adalah ia tidak bisa sembarangan berbuat sesuatu, misalnya seperti berpegangan tangan. Hal-hal yang umum dilakukan oleh orang pacaran hanya bisa mereka lakukan bila sedang tidak ada orang lain. Mereka harus selalu waspada karena takut diketahui oleh orang yang membenci kaum gay.

Steve berpendapat gay bukanlah dosa, karena menurutnya, orang gay dilahirkan sebagai gay, berarti datangnya dari atas (Tuhan) juga. Agama hanya buatan manusia, dan begitu juga larangan-larangan tentang gay hanya buatan manusia. Steve yakin Tuhan mencintai semiua makhluk ciptaan-Nya, termasuk gay.

Menurut Steve, tidak ada ketentuan seorang gay berperan sebagai wanita atau pria. Mereka bisa bertukar peran sesuka hati, dan perbedaan antara gay yang berperan sebagai pria dengan yang berperan sebagai wanita hanyalah dalam hal hubungan sex. Itulah untungnya hubungan dengan pria, saling melengkapi di waktu apapun.

Steve mengaku ia termasuk orang yang cemburuan, namun tidak sampai membabi-buta. Ia hanya akan cemburu bila pasangannya sudah kelewatan, dan ia bersyukur hingga sekarang semua pasangannya tidak pernah ada yang kelewatan.

Ditanyai mengenai cara membedakan pria gay dengan normal, Steve berkata bahwa ia tidak mempunyai cara khusus. Ia hanya sembarangan menebak saja, karena kadang pria yang kelihatan normal bisa saja gay dan pria yang kelihatan feminin bisa saja bukan gay. Tidak ada hal yang pasti di zaman sekarang ini.

Akhir kata, Steve sangat berharap pernikahan gay dilegalkan di Indonesia, supaya ia bisa dengan bebas bergandengan dengan pasangannya. Ia sangat ingin menikah dan memiliki anak, seperti layaknya pasangan suami istri pria dan wanita. Ia berpendapat bahwa saat ini sudah banyak cara yang bisa dilakukan pasangan sesama jenis untuk memiliki anak, salah satunya dengan cara adopsi. Steve tentunya tidak ingin anaknya nantinya menjadi gay, karena hidupnya tidak mudah. Namun bila kelak anaknya juga menjadi gay, ia akan selalu mendukung anaknya. Saran Steve kepada masyarakat adalah kalau ada orang yang bilang “saya gay”, janganlah menganggapnya aneh, karena sebenarnya itu sama saja dengan “saya tinggi” atau “saya berambut hitam”. Dari lahir memang sudah begitu dan tidak ada yang harus / perlu disesali atau diperbaiki.

III. Vino

Vino, seorang stylist di salah satu salon terkenal di Jakarta, berusia 27 tahun dan sudah pernah menikah. Tipe pria kesukaannya adalah Tom Hanks, karena berkarakter. Sekarang ini Vino sudah memiliki kekasih, dan tempat kencan kesukaannya adalah Club malam. Ia pernah berpacaran paling singkat selama 2 bulan, dan pacaran paling lama selama sekitar dua setengah tahun, dan biasanya putus hubungan karena kecemburuan yang menyebabkan pertengkaran besar.

Sebagai openly gay atau gay yang tidak takut menunjukkan diri, Vino tidak pernah memilih-milih teman, dan semua temannya tahu bahwa ia adalah gay, dan tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut karena teman-temannya menerima Vino apa adanya. Meski begitu, orangtua Vino masih belum tahu, dan menurut Vino ia tidak takut bila diketahui orangtuanya, karena hal ini memang sudah tidak dapat diubah dan ia pun sudah mampu menghidupi dirinya sendiri (sudah dewasa), sehingga orangtuanya seharusnya tidak perlu mengatur-atur hidupnya.

Menjadi gay, menurut Vino, terjadi begitu saja dan bukan merupakan pilihan. Jika gay merupakan pilihan, ia tentunya ingin menjadi normal karena lebih sesuai dengan kodratnya sebagai seorang laki-laki. Ia semakin merasa yakin untuk menjadi gay karena ia sadar bahwa banyak yang menjadi gay ekarang ini, dan bukan hanya dia sendiri.

Karena pernah menikah, tentunya Vino pernah mengalami menjalin cinta dengan wanita. Menurutnya, perbedaan antara pacaran dengan pria atau dengan wanita hanyalah gay lebih posesif. Ia bahkan pernah mempunyai pacar pria yang sangat mencintainya sampai menjadi posesif. Posesif tersebut terjadi karena banyak gay yang suka berganti pasangan dan banyak pula yang suka saling merebut pasangan. Menurut Vino, bila ada wanita yang menyukainya dan mengejarnya, ia bersikap biasa saja. Ia mengakui gay memang lebih menarik perhatian wanita, karena gay pada umumnya lebih fashionable dan lebih memperhatikan penampilan dibandingkan pria straight.

Dosa atau tidaknya menjadi gay, menurut Vino, biarlah Tuhan yang menentukan dan menilai. Namun menurut dirinya sendiri, dosa adalah apabila kita merugikan orang lain. Sebagai gay Vino merasa dirinya tidak pernah merugikan orang lain.

Vino mengaku bila pacaran ia melakukan hubungan sex, namun tidak selalu. Semuanya tergantung keinginan bersama. Bila menonton video porno yang pemerannya wanita, ia tidak akan terangsang bila melihat wanitanya, melainkan terangsang melihat pemeran prianya. Pada kenyataannya, dalam hubungan gay ada yang berperan sebagai wanita dan ada pula yang berperan sebagai pria. Vino sendiri mengaku versatile (bisa menjadi wanita ataupun pria). Istilah untuk gay yang berperan sebagai wanita adalah Bottom, sedangkan yang berperan sebagai pria adalah Top.

Vino tidak memberikan ciri-ciri khusus mengidentifikasi gay, karena menurut dia, biasanya ada sinyal-sinyal khusus dan ia bisa langsung tahu. Selain itu biasanya gay sangat fashionable. Cara berpenampilan dan cara berbicara pun bisa membantunya menentukan.

Vino sebenarnya ingin sekali pernikahan gay dilegalkan, tapi di Indonesia menurutnya akan sangat lama sekali untuk menunggunya terjadi. Pesan Vino kepada masyarakat, jangan mendiskriminasi gay. Sebagai gay yang sudah pernah menikah dan memiliki anak, ia tentunya takut anaknya menjadi gay, namun bukan karena ia tidak ingin anaknya menjadi gay, ia hanya takut anaknya menderita dan tidak sanggup menerima tantangan karena sebagian besar masyarakat masih belum bisa menerima keberadaan gay.

IV. IA

Responden kami yang berinisial IA, seorang gay berusia 21 tahun yang mengaku dirinya termasuk pendiam, mengaku mengidolakan Oprah Winfrey karena mengagumi perjuangan Oprah Winfrey sejak kecil yang disiksa secara fisik hingga bisa sukses seperti sekarang ini. IA berparas tampan dan banyak disukai pria maupun wanita. Namun, ia mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tertarik pada wanita. Ia menyadari hal ini sejak 4 sampai 5 tahun yang lalu.

Sebagai pria yang dikejar banyak orang, IA sudah memiliki banyak pengalaman menjalin kasih. Masa pacaran tersingkatnya adalah 2 minggu, dan yang paling lama adalah 8 bulan. Sekarang ini ia sedang single atau tidak ada pasangan. IA bercerita, masa pacaran tersingkatnya itu terjadi karena pasangannya berselingkuh dengan pria lain. Ia biasa berkencan di mall-mall favoritnya yaitu Plaza Indonesia, Taman Anggrek, dan Grand Indonesia.

Karena termasuk orang yang cukup tertutup, hanya sebagian temannya yang tahu bahwa ia memiliki kecenderungan seksual menyukai sesama jenis. Dan tentunya, orangtuanya tidak tahu akan hal ini. IA mengaku ia memilih-milih teman, dan ketika memberi tahu beberapa teman tertentu mengenai kecenderungan seksualnya, ia bersyukur karena temannya hanya kaget saja dan tidak menentang ataupun menjauhinya setelah tahu.

IA berpendapat kecenderungan seksual bukanlah sesuatu yang bisa dipilih. Semuanya terjadi begitu saja, dan tidak bisa dihindari. Dia menyukai laki-laki, dan hal ini tidak bisa dipungkiri. Ia semakin yakin untuk menjadi gay karena teman-teman sebayanya banyak yang gay, dan menurut IA, pada prinsipnya gay dan straight itu sama saja, hanya berbeda pada jenis kelamin orang yang disukai. IA yakin cinta tidak ada batas apapun, termasuk batas jenis kelamin. Meski ia yakin untuk menjadi gay, ia tidak menutupi kemungkinan bila nantinya akan menyukai wanita. Ia berkata hanya akan membiarkan segalanya mengalir saja. Ia hanya pernah berpikir untuk menjadi straight, namun tidak melakukan usaha apapun.

Apabila ada seorang gadis yang mendekatinya dan bahkan menyatakan cinta padanya, IA akan menolaknya dengan halus, dengan beralasan bahwa ia ingin konsentrasi menyelesaikan studinya dulu. Biasanya bila banyak gadis yang mendekatinya, ia bersikap dingin dan sangat cuek, dan bahkan tidak menghiraukan apapun yang dilakukan gadis-gadis itu. IA tidak pernah berpacaran dengan wanita, dan menurutnya perbedaan pacaran dengan wanita dan pria adalah wanita menuntut perhatian lebih, sedangkan bila berpacaran dengan pria mereka tidak bisa bergandengan tangan di tempat umum.

Bagi IA, menjalani hubungan cinta sebagai gay bukanlah suatu perbuatan dosa, selama hubungan itu dijalani dengan penuh tanggungjawab, maka tidak lebih berdosa dibandingkan pacaran wanita dan laki-laki. Kadang ia merasa takut karena meskipun ia tidak menganggap itu adalah dosa, banyak orang yang menganggap gay adalah dosa. Ditanyai apakah pernah melakukan hubungan sex, ia menjawab dengan malu-malu, pernah. Bila menonton film porno yang pemerannya adalah wanita, ia sama sekali tidak merasa terangsang, melainkan malah menjadi muak melihatnya.

Sebagai gay, dalam menjalani hubungan ia lebih banyak berperan sebagai laki-laki. Namun, peran dalam hubungan sebenarnya fleksibel, karena ia juga pernah berperan sebagai perempuan. Semuanya ini tergantung kekasihnya.

IA sendiri merasa ia bukanlah orang yang cemburuan, sehingga ia tidak setuju persepsi masyarakat bahwa gay biasanya cemburuan. Namun ia tidak menyangkal bahwa banyak gay yang cemburuan, karena mereka cenderung tidak setia dan suka berganti pasangan.

Pengalaman IA selama menjadi gay cukup banyak yang unik. Ia pernah diajak berkenalan oleh seorang bapak-bapak di toilet Grand Indonesia, pernah menjalin hubungan dengan seorang pria yang ternyata adalah teman baiknya teman IA dan teman IA itu tidak tahu bahwa ia gay. Selain itu, IA juga terkejut mengetahui bahwa guru SMA-nya ada yang gay. IA pun pernah berpacaran dengan seorang pria yang belakangan baru diketahui ternyata adalah adik kelasnya di SMA. IA pun pernah dipeluk kekasihnya yang dulu di tengah-tengah keramaian mall Taman Anggrek karena baru pertama kali bertemu dan semua orang yang ada melihat pelukan hangat tersebut. IA bahkan tidak menyangka akan langsung dipeluk. Hubungan yang ia jalani dengen kekasihnya tersebut adalah hubungan long distance. Sekali lagi sebagai pria yang tampan, ia sering diajak berkenalan oleh gay, dan ia pun sering menerima telepon tanpa suara yang menurutnya sangat mengganggu.

Bagaimana cara mengidentifikasi gay? IA menjelaskan bila ada seorang pria yang terus menatapnya meskipun ia sudah balas menatapnya, itu berarti pria tersebut gay dan berminat padanya. Adapun laki-laki yang hanya memakai anting sebelah, yaitu di telinga sebelah kiri adalah gay. Kadang-kadang, dengan sekali lihat saja IA akan tahu bahwa seorang pria adalah gay.

IA tidak takut anaknya nanti akan menjadi gay, karena menurutnya gay bukan hanya faktor genetik, namun bisa saja faktor lingkungan. Jadi, apabila ayah si anak adalah gay, tidak berarti si anak akan menjadi gay.

Tempat bergaul gay yang ia tahu antara lain adalah Club Apollo, Club Heaven, dan Café OhLaLa Sarinah. Sedangkan situs favorit gay yang ia tahu adalah Manjam dan Gaytube.

Ia sebenarnya berharap pernikahan sesama jenis dilegalkan, namun ia tidak berharap banyak di Indonesia akan dilegalkan, karena gay / lesbian masih merupakan hal yang tabu di mata sebagian besar masyarakat Indonesia. Pesan IA pada masyarakat, cobalah untuk tidak menilai sesuatu dari 1 sisi saja. Cobalah bayangkan bila Anda ada dalam posisi gay.

V. Robin

Seorang responden bernama Robin, usia 25 tahun, bekerja sebagai seorang sales parfum di salah satu mall di Jakarta Barat. Ia menyukai Ashton Kutcher karena menurutnya wajah dan tubuhnya oke. Ia menyadari dirinya gay sejak SMA, dan tidak tahu apa sebabnya. Hanya terjadi begitu saja secara alami.

Masa berpacaran Robin yang paling singkat adalah 2 bulan, sedangkan yang paling lama adalah 1 tahun 8 bulan. Biasanya ia putus hubungan karena sudah ada pria baru yang mengisi hidupnya. Robin saat ini sudah punya kekasih, dan tempat kencan favoritnya adalah klub malam. Semua teman Robin tahu bahwa ia gay, dan sikapnya biasa saja terhadapnya. Tidak ada masalah apa-apa, sehingga Robin merasa tidak perlu memilih-milih teman. Sedangkan orangtua Robin belum mengetahui kecenderungan seksual anaknya tersebut. Menurut Robin, orangtuanya mungkin akan menerima meski terpaksa.

Suatu pengalaman yang paling berkesan bagi Robin selama menjadi gay adalah ia pernah ditawar seorang gay untuk melakukan hubungan sex semalam saja. Hal yang membuat Robin yakin untuk terus menjadi gay adalah karena banyak temannya yang gay dan hidup mereka baik-baik saja.

Robin tidak menganggap menjadi gay adalah dosa, karena sekali lagi itu semua kembali pada Tuhan. Ia mengaku pernah melakukan hubungan sex dengan pasangannya, dan ia tidak akan terangsang bila melihat wanita. Ia pernah berpacaran dengan wanita. Menurutnya, pacaran dengan wanita biasa saja, dan perbedaannya bila berpacaran dengan pria adalah gay cenderung lebih posesif dan cemburuan. Ia merasa gay memang harus menjadi posesif, karena gay cenderung mudah berpindah ke lain hati, sehingga pasangan kita harus dijaga sebaik-baiknya agar tidak berpindah hati.

Cara Robin dalam mengidentifikasi gay adalah dengan melihat cara berpenampilan dan cara berjalannya. Robin ingin sekali pernikahan sesama jenis dilegalkan di Indonesia, meski dirasa mustahil untuk saat ini. Pesan Robin kepada masyarakat adalah, jangan selalu merasa dirinya benar kalau straight. Benar atau salah bukan dilihat dari kecenderungan seksualnya.

VI. Ariel

Responden kami bernama Ariel, seorang hairstylist, berumur 27 tahun. Ariel sudah mengetahui dirinya adalah seorang pria homoseksual sejak duduk di bangku SMA. Ariel sangat mengidolakan Leonardo Dicaprio dikarenakan Leonardo Dicaprio sangat ganteng sekali, sehingga Ariel begitu mengidolakannya. Ariel sudah memiliki seorang kekasih, dan hubungan Ariel dengan kekasihnya ini tidak dirahasiakan dikarenakan teman-teman Ariel sudah mengetahui kalau Ariel adalah seorang gay. Ariel mempunyai banyak pengalaman dalam berpacaran, misalnya pertama kali berpacaran, ariel berpacaran dengan seorang om-om. Masa tersingkat ariel berpacaran adalah 3 bulan, dan masa terlama ariel berpacaran adalah 3 tahun. Ariel putus dengan kekasihnya dikarenakan kekasihnya memiliki pria idaman lain. Selama menjalin kasih, Ariel juga sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan kekasihnya.

Ariel menjadi seorang pria gay dikarenakan lingkungannya. Teman-teman Ariel banyak yang menjadi gay, karena itu Ariel terpengaruh oleh pergaulannya tersebut. Selama ini, Ariel juga tidak pernah memilih-milih teman dikarenakan Ariel tidak ingin menutup-nutupi bahwa ia adalah seorang gay. Ia lebih memilih terbuka kepada teman-temannya, selain itu kebanyakan dari teman-temannya juga seorang gay. Ariel juga pernah ditaksir oleh seorang wanita, tetapi ia tidak menanggapinya. Menurut Ariel banyak wanita tertarik dengan pria homoseksual dikarenakan cara berpakaian pria homoseksual lebih fashionable dari pria-pria normal pada umumnya. Menurut Ariel perbedaan berpacaran dengan seorang wanita dan dengan seorang lelaki adalah jika berpacaran dengan sesama lelaki, menjadi lebih posesif, dikarenakan memiliki perasaan yang sangat ingin saling memiliki. Dan dalam suatu hubungan diantara sesama gay, tidak ada yg berganti menjadi nama menjadi wanita, semua tetap pada nama masing-masing, berbeda halnya dengan lesbian. Menurut Ariel, jika seorang gay menonton film porno, mereka akan merasa jijik melihat wanita, sebaliknya mereka merasa terangsang melihat si pria tersebut. Ariel sebenarnya juga menginginkan menjadi pria normal dan suatu saat nanti menikah dengan seorang wanita. Dan ada sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh Ariel kepada masyarakat bahwa gay itu bukan penyakit yang harus dikarantina, jadi masyarakat tidak perlu jijik terhadap gay, karena gay juga sama seperti kita yang juga seorang manusia.

VII. Matthew

Matthew seorang responden kami yang berumur 21 tahun, mengaku mengidolakan Chace Crawford setelah menonton Gossip Girl karena wajahnya manis. Sekarang ini ia sudah mempunyai kekasih wanita, dan ia pernah berpacaran dengan pria. Ia mengaku bukan sepenuhnya gay, melainkan seorang biseksual. Ia sangat ingin menjadi pria straight, dan sekarang ia merasa sudah menemukan seorang gadis yang tepat untuknya.

Matthew hanya pernah berpacaran 2 kali, yang pertama dengan pria dan yang kedua dengan wanita. Hubungan gaynya terjalin singkat yaitu hanya 3 bulan, sedangkan masa pacaran terlamanya adalah 5 bulan sampai sekarang. Penyebab putusnya dulu adalah miscommunication (salah paham). Sebagai biseksual, ia sudah sering menyukai sesama jenis, namun itu semua hanya perasaan sementara saja dan mudah hilang.

Perbedaan menjalin kasih dengan wanita dan dengan pria, menurut Matthew adalah kalau dengan wanita dialah yang memanjakan si wanita, sedangkan kalau dengan pria, dialah yang dimanja.

Teman-teman Matthew tahu mengenai kecenderungan seksualnya, namun hanya teman baiknya saja. Mereka menanggapinya biasa saja, meski pertama tidak percaya namun pada akhirnya percaya dan bisa menerima dengan baik. Matthew memang sangat memilih-milih teman yang akan diberitahunya, dan ia paling benci pada orang yang gampang menjauhi temannya. Namun Matthew sangat takut bila orangtuanya tahu, karena orangtuanya tidak akan bisa menerima hal tersebut. Ia takut akan dikurung seumur hidup bila ketahuan orangtuanya.

Matthew menyadari bahwa dirinya mulai menyukai sesama jenis sejak kelas 4 SD, dan menurutnya hal ini bukan keinginan, melainkan panggilan jiwa. Matthew sadar ia bisa menyukai pria dan wanita sekaligus tanpa membedakan jenis kelamin. Yang ia sukai adalah orangnya, bukan jenis kelaminnya. Meski ini kelihatannya bukan sebuah penyakit, namun Matthew sangat ingin berubah menjadi straight sepenuhnya, karena ia merasa muak menjadi biseks. Ia takut akan menjadi banci, dan ia ingin sekali hidup normal seperti laki-laki normal lainnya. Ia juga yakin bahwa selamanya gay tidak akan diterima sepenuhnya di masyarakat, dan ia tidak ingin keluarganya menjadi bahan pergunjingan orang lain. Ia tidak ingin mempermalukan keluarganya dan dirinya sendiri, sehingga ia yakin untuk menjadi straight.

Meski mengakui kaum gay berhasrat tinggi, Matthew berprinsip “no sex for men”. Ia sangat anti dengan sex sebelum menikah, terutama dengan pria karena ia merasa ngeri membayangkannya. Matthew menceritakan bahwa selama ia menjalin hubungan sesama jenis, tidak ada yang berperan sebagai wanita, karena keduanya sama-sama menyadari bahwa dirinya adalah pria. Tapi menurut Matthew, yang biasanya menentukan siapa yang berperan menjadi wanita adalah yang lebih lemah dan lebih banyak hormon wanitanya.

Matthew tidak setuju pendapat bahwa gay sangat cemburuan, karena menurut dia, wanita lah yang lebih cemburuan daripada gay, karena pria cenderung berpikir dengan logika sedangkan wanita dengan perasaan.

Matthew pun mengakui bahwa ia tidak mampu mengidentifikasi gay, karena ia tidak sensitif dan mungkin karena ia adalah biseksual. Pesan dari Matthew untuk masyarakat adalah, harap jangan mengucilkan mereka yang menyukai sesama jenis, karena mereka juga manusia sama seperti kita semua.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar