Kamis, 08 Oktober 2009

BUSINESS ADMINISTRATION

Bab I

Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Latar belakang dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi keingintahuan pembaca dan kami sendiri mengenai apa saja hal menarik yang terjadi dalam suatu perusahaan, bagaimana mengorganisasi suatu perusahaan, bagaimana mengoperasikan suatu perusahaan, dan hal-hal sistematis lainnya yang ada dalam suatu perusahaan dan akan sangat berguna untuk menambah pengetahuan kita mengenai hal-hal tersebut. Pada umumnya, setiap manusia melalui setiap fase kehidupan mulai dari lahir, sekolah, kuliah, bekerja, berumah tangga, hingga menikmati masa tua. Oleh karena itu, dengan adanya makalah ini, kami berharap dapat membantu pembaca dalam menjalani fase hidup bekerja.

Kami membuat makalah ini sebagai kumpulan dari hasil pembelajaran dan riset kami mengenai manajemen perusahaan. Setelah melakukan penelitian kasus dan pencarian data-data mengenai perusahaan yang kami ingin teliti, akhirnya kami merangkum informasi-informasi yang telah kami dapatkan, untuk menjadi makalah ini.

Dengan semakin maraknya persaingan pada dunia kerja yang ada sekarang ini, kami berharap dengan membahas mengenai pengoperasian perusahaan ini, kami dapat menginformasikan pada masyarakat mengenai faktor2 yang dibutuhkan dan dapat dipelajari sebagai persiapan untuk terjun ke dunia pekerjaan. Dengan pembelajaran dan kumpulan informasi mengenai suatu perusahaan, diharapkan pembaca dapat menganalisa dari pengalaman-pegalaman yang sudah ada, dan merangkumnya sendiri menjadi suatu trik yang berguna bagi kelangsungan karir.

Kami pun berharap dengan informasi yang ada di makalah ini dapat menjadi informasi dan menambah pengetahuan.

  1. Permasalahan

Ketika masa sekolah maupun masa kuliah, kita tentunya belum terjun langsung ke lapangan dan mengenal dunia kerja. Oleh karena itu, ketika kita baru lulus sekolah maupun lulus kuliah dan baru saja akan memasuki dunia kerja, kita seringkali tidak mengetahui sesuatu apapun mengenai dunia yang akan kita masuki tersebut. Kita akan seperti orang yang masuk ke dalam suatu ruangan gelap tanpa diberi informasi apapun. Kita nyaris tidak memiliki persiapan mental untuk mulai memasuki dunia baru. Maka, dengan adanya informasi, kami berharap dapat membantu memberi panduan maupun bimbingan bagi orang yang baru saja akan memasuki dunia baru tersebut.

  1. Tujuan dan manfaat

- Mengumpulkan informasi mengenai keadaan karir dalam suatu perusahaan.

- Untuk mengetahui kegiatan administrasi dari suatu perusahaan

- Untuk mengetahui cara-cara pengelolaan keuangan dari suatu perusahaan

  1. Tinjauan pustaka

1. Bagaimanakah perjalanan PT.GMP setelah mengalami krisis Financial pada tahun 1998 ?

BAB II

PT GUNUNG MADU PLANTATIONS

Latar Belakang berdirinya PT.GMP

( Perkembangan Industri Gula Indonesia )

A. Sebelum Perang Dunia II ( 1930 – 1940 )

· Sebelum Perang Dunia II, Indonesia ( Jawa ) merupakan salah satu penghasil gula terbesar di dunia sekaligus sebagai pengekspor gula terbesar kedua setelah Kuba.

· Puncak produksi dicapai pada tahun 1931, dengan produksi sebesar 3 juta ton, sekitar 2 juta ton diantaranya diekspor. Tingkat produktivitas mencapai 14,8 ton gula per hektare, dari produktivitas tebu sebesar 130 ton per hektare.

B. Seteleh Perang Dunia II ( 1950 – 1970 )

· Akibat perang dunia II, pabrik-pabrik gula banyak yang mengalami kerusakan dan banyak yang tidak dapat dioperasikan kembali, pertanian tebu juga terlantar.

· Produktivitas dan produk gula terus merosot. Produktivitas tebu turun menjadi sekitar 80 -90 ton tebu per hektare.

· Industri gula masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dan tanaman tebu masih diusahakan di atas tanam – tanam sawah petani yang disewa oleh pabrik gula.

· Indonesia menjadi negara pengimpor gula sejak tahun 1967 karena produksi gula di dalam negeri tidak dapat memenuhi konsumsi yang terus meningkat.

C. Pengembangan Industri Gula ke Luar Jawa ( Pasca 1970 )

  • Impor gula makin besar karena makin meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional dan bertambahnya jumlah penduduk. Impor pada awal tahun 1970-an mancapai 300.000 – 400.000 ton, sehingga memerlukan devisa yang sangat besar.
  • Pada kurun waktu yang sama tingkat produktivitas ( Jumlah produksi per satuan luas ) terus menurun karena berbagai sebab yang kompleks. Kalaupun secara nasional masih dijumpai kenaikan produksi secara total. Hal ini disebabkan oleh makin luasnya pertanaman tebu dan bukan karena membaiknya tingkat produktivitas. Kesenjangan antara produksi dan konsumsi di dalam negeri terus membesar.
  • Pemerintah menyadari konsekuensi dari situasi pergulaan seperti ini, sehingga mencanangkan pengembangan industri gula ke luar Jawa untuk menigkatkan produksi gula nasional. Karena keterbatasan dana, pemerintah mengundang pihak swasta untuk ikut melaksnakan pengembangan industri gula ini.
  • PT Gunung Madu Plantations ( GMP ) didirikan pada tahum 1975 untuk menjawab ajakan pemerintah tersebut, dan memeilih provinsi Lampung untuk pengembanagan industri gula yang dimaksud. GMP merupakan perusahaan patungan antara perusahaan swasta asing dan swata naisonal berstatus PMA, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Kuok Investment ( Mauritius ) Co.,Ltd.

BAB III

Perjalanan PT.Gunung Madu Plantations

A. Posisi Awal PT. GMP dalam Merintis Industri Gula di Lampung

· Sebagai investor di bidang pertanian, para pemegang saham sangat menyadari akan menghadapi berbagai resiko seperti lambatnya ROI ( return on investment ). Juga rentanya usaha pertanian terhadap gejala – gejala alam, seperti iklim, cuaca, eksplosi hama dan penyakit, ketersediaan air, variabilitas kesuburan tanah, dll.

· Investasi didanai dengan dana pinjaman luar negeri yang diperoleh melalui perusahaan Kuok, sehingga dapat dimengerti bila mitra asing ini menguasai saham terbanyak. Selain itu, perusahaan Kuok juga sangat berpengalaman di bidang pergulaan internasional serta mempunyai perkebunan tebu dan pebrik gula yang cukup sukses di Malaysia. Pengalaman ini sangat berpengaruh dan bermanfaat dalam operasional proyek di Lampung. Kuok tetap menjadi motor penggerak utama dari PT Gunung Madu Plantations sampai dengan sekarang.

B. Upaya Mengatasi Masalah-masalah Awal

· Kendala-kendla utama yang dihadapi GMP pada awal perkembangannya mencakup 3 hal, yaitu 1) Minim ketersediaan fasilitas umum dan prasarana dasar ( sarana jalan dan transportasi, telekomunikasi , listrik, pasar, dan lain-lain.), 2) Tidak tersedianya teknologi di bdang budidaya tebu untuk kondisi yang baru seperti di Lampung, karena teknologi yang ada adalah warisan jaman dulu yang lebih spesifik untuk kondisi Jawa, dan 3) Terbatasnya sumber daya manusia yang siap pakai pada seluruh lapisan pekerjaan, khususnya di lapisan manajemen.

· Dengan berbagai cara, GMP mengusahakan agar aksesibilitas yang kurang menguntungkan itu dapat diatasi, dan menyediakan sebagian besar dari fasilitas umum yang diperlukan. GMP membangun sendiri perumahan dan perkampungan untuk tempat tinggal karyawan dan tenaga kerja yang lain, lengkap beserta fasilitas-fasilitas dan prasarana primernya (listrik, air bersih, hiburan ,dan lain lain).

· Di bidan gteknologi pertanian tebu GMP memenfaatkan dan menyerap teknologi yang sudah lebih siap pakai, yang berasal dari Malaysia, yakni dari perkebunan tebu Kuok di Malaysia.

· Tim kecil dari Malaysia diperbantukan ke GMP selama beberapa waktu (sampai dengan 1981) untuk mengembangkan sumber daya manusia yang ada. Di sisi GMP, terutama untuk mengisi lapisan manajemen, manajemen merekrut tenaga-tenaga muda yang baru lulus dari perguruan tinggi. Sarjana-sarjana baru ini lebih mudah dibentuk dan lebih mudah menerima teknologi dan hal-hal baru.

· Proses pematangan staf juga dilakukan dengan mendatangkan berbagai pakar bertaraf internasional ke lokasi proyek. Para pakar ini diminta memberikan seminar, pelatihan dan memberikan pandangan-pandangan yang lebih mutakhir tentan gbidang mereka masing-masing. Para staf jug adikirim ke berbagai tempat di dalam maupun ke luar negeri untuk mempelajari dan mangadopsi teknologi baru.

C. Prinsip dan Strategi Berusaha

  • Menyadari timbulnya beban dan kewajiban keungan yang cukup berat dengan pinjaman luar negerinya yang dalam dollar AS, maka GMP menerapkan kebijakan keungan yang penuh disiplin. Selain itu, dalam seluruh operasionalnya GMP selalu mengikuti semua peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku. GMP mempunyai pandangan dan sikap yang tegas dalam masalah ini. Prinsip ini terus dipertahankan sampai sekarang.
  • Prinsip yang sama juga diterapkan dalam masalah pembebasan lahan, sehingga persoalan-persoalan pembebasan lahan yang berkepanjangan dapat dihindari.GMP sangat menyadari bahwa keterbatasan lahan merupakan jaminan bagi tersedianya bahan baku tebu untuk pabrik, sehingga persoalan sekecil apapun tentu dapat mangganggu ketersediaan bahan baku dan mengganggu kepastian proses produksi.
  • GMP membentuk unit penelitian sendiri sebagai langkah strategis untuk menghadapi berbagai masalah teknologi khususnya di bidang pertanian tebu. Dalam perkembangannya, anggaran yang disediakan untuk bidang ini dapat mencapai Rp. 2,5 miliar lebih per tahun.

D. Perkembangan Produksi

· Pabrik gula GMP yang semula sederhana dan berkapasitas giling 4.000 TCD (ton tebu per hari) secara bertahap dikembangkan dan dimodernisasi sejalan dengan kemajuan perusahaan. Kini pabrik tesebut telah berubah menjadi pabrik yang modern dan berkapasitas giling 12.000 TCD.

· Produksi gula GMP terus menningkat sejalan dengan peningkatan penguasaan teknologi baik di bidang pertanian, pabrik, serta di bidang manajemen pada umumnya.Pada musim giling pertama 1978 produksi gula GMP hanya sekitar 18.000 ton, dengan tingkat produktivitas 3,5 tongula per hektare. Dalam musim 5 tahun terakhir produksi gula mencapai rata-rata di atas 160.000 ton dengan tingkat produktivitas di atas 7,0 ton gula per hektare.

· Sampai dengan bulan Juni 1998 produksi gula GMP seluruhnya dibeli oleh BULOG, dan selanjutnya BULOG pula yang mengatur pendistribusiannya. Gula GMP didistribusikan di berbagai provinsi, antara lain Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera U tara, Kalimantan Selatan, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Tetapi, mulai bulan September 1998, pemasaran gula ditangani langsung oleh pabrik.

· Hasil samping berupa tetes (molasses) dipasarkan langsung ke sejumlah pembeli di dalam dan luar negeri.

· GMP telah diakui sebagai pioner industri gula di luar Jawa karena berhasil membuktikan bahwa industri gula yang efisien dan menguntungkan dapa dikembangkan di Luar Jawa. GMP telah menjadi rujukan bagi berbagai pihak di lingkungan industri gula nasional, khususnya yang berada di Luar Jawa.

E. Pembinaan Sumber Daya Manusia dan Kesejahteraan

  • GMP memberi perhatian yang sangat besar terhadap pengembangan sumber daya manusia, program pelatihan bagi para staf dan karyawan dilakukan melalui berbagai forum, termasukstudi perbandingan ke berbagai tempat di dalam dan di luar negri. Pada tahun 1997 GMP mendirikan lembaga pendidikan dan pelatihan, yaitu Lampung Sugar Training Centre (LSTC). Tujuanya, untuk melaksanakan program pengembangan sumber daya manusia agar lebih sistematik dan profesional.
  • Kesejahteraan karyawan selalu ditingkatkan sesuai dengan kemampuan perusahaan di antara perusahaan sejenisnya di Lampung, GMP juga termasuk yang paling awal mempunyai institusi SPSI. Sampai saat ini Perjanjian Kerja Sama telah mengalami pembaharuan yang ke sepuluh kalinya dan terus berkembang secara dinamis sesuai kemajuan perusahaan. Perkembangan kegiatan koprasi, pendidikan anak karyawan, pembinaan kesehatan dan pembinaan keagamaan cukup menonjol. Perusahaan dan koperasi menyediakan bea-siswa bagi anak-anak karyawan yang berprestasi, dari tingkat SD,SLTP dan SLTA. Bagi mereka yang diterima pada jenjang D3 hingga S1 perguruan tinggi negri.

F. Pengelolaan Lingkungan

  • GMP berupaya agar industri gula dapat menjadi industri yang ramah lingkungan. Limbah cair diolah secara biologis melalui serangkaian kolam anaerob dan aerob. Instalasi pengolahan ini menempati lahan seluas 10 Ha. Kinerjanya mampu menghasilkan kualitas buangan dibawah baku mutu yang digariskan oleh pemerintah. Air buangan dari pabrik ini, setelah diolah, sangat layak digunakan untuk mengairi tanaman tebu, terutama pada bulan-bulan kering yang selalu bersamaan dengan musim giling.
  • Limbah padat berupa blotong (filter cake) seluruhnya dimanfaaatkan kembali sebagai pupuk organik di kebun tebu. Blotong ini cepat memberikan peningkatan pertumbuhan vegetatif tanaman, mengurangi pemakaian pupuk kimia dan memperbaiki kesuburan fisik dan kimiawi tanah. Buangan padat lainya, ampas tebu (bagasse), digunakan sebagai bahan bakar ketel yang berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik. Dalam hal ini pabrik gula selalu berswasembada listrik. Ampas yang tidak habis terpakai oleh ketel pabrik digunakan untuk membangkitkan listrik yang lebih besar (untuk penyediaan tenaga listrik sampai ke kebun), ampas tebu kini juga dimanfaatkan untuk bahan baku utama pembuatan kompos.
  • Dalam artian yang lebih luas, GMP mengelola lingkungan juga dengan melaksanakan budidaya tanaman tebu dengan baik. Pengendalian hama utama berupa penggerek tebu lebih mengutamakan pengendalian secara hayati dan bukan pengendalian menggunakan peptisida. Penggunakan pupuk kimia yang berlebihan (yang dapat mencemari air tanah) dicegah dengan analisis labolatorium dan pemantauan yang ketat, sehingga dosid pemupukan dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang sebenarnya. Kemunduran kesuburan tanah akibat erosi, perusakan struktur dan lain-lain, dicegah melaui riset dan pemanfaatan labolatorium. Di pabrik, teknologi “produksi bersih” dan minimalisasi limbah selalu diupayakan.

BAB IV

Kontribusi PT. Gunung Madu Plantations

A. Kontribusi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan pengembangan

Daerah

· Pembayaran berbagai pajak (PBB, PPN, PPH) dan retribusi.

· GMP menyerap tenaga kerja sekitar 1.700 orang sebagai karyawan tetap, ditambah sekitar 8.500 orang sebagai tenaga kerja harian dan musiman pada musim giling (April – Oktober). Di luar musim giling (Oktober – Maret), tenaga kerja harian yang dapat terserap masih sekitar 4.000 orang.

· Pada waktu musim giling, setiap minggu dibayarkan upah (untuk tenaga kerja harian) sekitar Rp 3,0 hingga Rp 3,5 miliar, sedangkan untuk gaji karyawan dibayarkan sekitar Rp 2,5 miliar per bulan. Dana ini sebagian besar terserap di Provinsi Lampung sendiri, khususnya disekitar lokasi GMP.

· Berbagai barang, bahan, dan material juga dibeli secara local (di Lampung). Pembelian local ini dapat mencapai rata – rata Rp 10 miliar setiap bulannya.

· Perputaran dana serta keterlibatan dan kegiatan dari begitu banyak tenaga kerja juga menumbuhkan berbagai kegiatan ekonomi ikutan, yang menguntungkan semua pihak dan daerah. Misalnya kegiatan angkutan umum, tumbuhnya pasar, warung dan toko, berkembangnya kegiatan perbengkelan dan pertukangan, kontraktor bangunan, dan lain-lain.

· Terjadi interaksi positif dengan lembaga-lembaga pendidikan setempat yang pada saatnya dapat berfungsi sebagai wahana pemasok tenaga kerja, khususnya SLTA dan Perguruan Tinggi. GMP terbiasa menerima siswa dan mahasiswa praktek, termasuk untuk penelitian, dari tingkat SLTA, D-3, S-1, S-2, maupun S-3. Bahkan GMP kini menjadi pusat peningkatan mutu guru di Kabupaten Lampung Tengah.

· GMP memberikan berbagai bantuan sosial bagi desa sekitar. Pelayanan kesehatan GMP sering menerima pasien-pasien dari desa sekitar. Secara umum, bertumbuhnya kegiatan ekonomi telah menyebabkan terbukanya daerah-daerah terpencil, sehingga memperluas pemerataan pembangunan.

B. Kontribusi terhadap Perkembangan Industri Gula Nasional

· GMP membuktikan bahwa industri gula di Luar jawa, khususnya di lampung, dapat berkembang dengan baik, dan mampu mencapai tingkat produktivitas yang cukup tinggi. Hal ini menghapus pendapat bahwa tanaman tebu dan industri gula hanya dapat tumbuh di pulau Jawa.

· Keberhasilan GMP telah menambah keyakinan pemerintah tentang prospek peningkatan produksi gula nasional yang lebih cerah,dan memancing BUMN maupun pihak swasta lainnya untuk menggalakkan perkembangan industri gula di Luar Jawa.

· Impor gula Indonesia minimal dapat berkurang sejumlah produksi gula GMP yang cukup berarti bagi penghematan devisa negara.

· Di dalam GMP telah tumbuh keahlian di bidang pertebuan dan pergulaan lahan kering yang sudah teruji, berupa para professional dan manager di bidang pergulaan. Potensi ini dapat dimanfaatkan kalangan yang lebih luas demi kemajuan industri gula nasional. Potensi GMP ini pun telah terbukti sangat besar peranannya sewaktu GMP dilibatkan dalam mengangkat produksi PT Gula Putih Mataram (tahun 1991) dan membuka PT Sweet Indo Lampung, PT Indo Lampung Perkasa dan PT Pemuka Sakti Manis Indah.

· Temuan-temuan GMP yang bermanfaat, khususnya dibidang teknologi, senantiasa dimasyarakatkan oleh GMP melalui berbagai forum pertemuan industri gula. GMP juga sering diminta menjadi tempat pelatihan bagi karyawan-karyawan pabrik gula lain.

Penutup

Keberhasilan GMP selama ini mampu memberikan gambaran yang lebih cerah bagi prospek peningkatan produksi gula nasional. Adalah jelas bagi Indonesia, bahwa potensi terbesar yang dimilikinya adalah potensi di bidang pertanian, mengingat ketersediaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup besar. Industri seperti pertanian seperti GMP secara nyata telah membuktikan betapa efektif dan harmonisnya pemanfaatan sumber daya alam, penyerapan tenaga kerja, pembukaan daerah terpencil dan pengembangan wilayah pedesaan dapat berlangsung. Bidang pertanian tetap merupakan penyerap tenaga kerja yang terbesar dan yang paling efisien bagi Indonesia.

Setelah berkiprah selama lebih dari 28 tahun di Lampung, GMP perlu mempertajam visi dan misi ke depan, sebagai berikut :

· Menjadi produsen gula yang efisien dan kompetitif di kawasan ASEAN

· Mendukung program pemerintah dalam usaha peningkatan produksi gula nasional dan swasembada gula

· Mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan karyawan

· Berperan serta secara aktif dalam membantu pengembangan dan pembangunan wilayah sekitar

· Mempertahankan dan meningkatkan keuntungan bagi para pemegang saham

GMP yakin bahwa predikat agen pembangunan tidak perlu dimonopoli badan usaha milik negara. Dalam praktik, badan usaha swasta seperti GMP jelas telah berfungsi sebagai agen pembangunan. Pada akhirnya, kemajuan dan viabilitas dari badan usaha itulah yang akan menentukan seberapa besar peranannya sebagai agen pembangunan. Makin maju dan makin sehat badan usaha itu, makin besar manfaatnya bagi pembangunan wilayah sekitarnya.

Kesimpulan

Tiap-tiap perusahaan pastinya memiliki kegiatan administrasi Dan dalam kegiatan administrasi tersebut mempunyai proses yang berbeda-beda. Di dalam kegiatan administrasi ini staf bukan hanya dituntut untuk terampil menyelesaikan pekerjaan di kantor, namun juga perlu memiliki sikap positif terhadap pekerjaan. Seorang manajer perusahaan harus bisa merencanakan, mengorganisir serta mengontrol seluruh pekerjaan dengan baik, agar seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat sehingga perusahaan itu dapat sukses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar